Selasa, 26 November 2019

Ulasan Buku Pengantar Tenun songket Sambas

Bismillah
Nama: Muhammad Rendi 
Nim: 11901099
Kelas: Pai D/1
Mata Kuliah: Bahasa Indonesia
Dosen Pengampu: Farninda Aditya, M.Pd.

Ulasan Buku
Judul Buku: Pengantar Tenun Songket Sambas
Pengarang: Suhendra, Andri Hidayat, Feby Nopriandy, Budi Setiawan


Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan yang sangat beragam. Hal tersebut menjadi faktor penarik bagi wisatawan mancanegara datang ke Indonesia untuk menyaksikan langsung beragam budaya yang ada di Indonesia.  Budaya dapat dijadikan tolak ukur untuk menilai kondisi suatu masyarakat yang menjadi pedoman umum untuk bertindak dan berperilaku. Menurut Anwarudin (2010), latar belakang budaya cukup besar pengaruhnya terhadap cara berinteraksi dalam kehiduapan sehari-hari dan karya yang dihasilkan oleh individu dalam berinteraksi. keberadaan budaya yang beraneka ragam harus didukung dan dijaga eksistensinya oleh pemerintah karena hal tersebut telah diamanatkan oleh Undang-Undang Dasar 1945 pasal 32 berbunyi "Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia". Seni budaya Indonesia yang cukup terkenal di luar negeri adalah seni kerajinan seperti kerajinan ukir, anyaman, batik, tenun, wayang, dan kemarik.

pandangan saya terhadap buku ini mempunyai kelebihan yang mana didalam buku ini terdapat cara untuk melestarikan budaya yang ada di sambas yang mana penulis ingin berbagi cara untuk melesatrikan dan mejaga kebudayaan yang ada di masyarakat sambas dalam menenun kain songket sambas,dan penulis ingin berbagi cerita tentang teknik yang digunakan pada saat proses menenun sebuah kain songket Sambas.

Di dalam buku ini terdapat beberapa penjelasan di antaranya tentang sejarah tenun songket Sambas. Masyarakat Sambas sudah lama mengenal kain tenun songket bedasarkan sumber yang ada di buku ini, sejak kerajaan Sambas dipimpin oleh sultan sulaiman pada tahun 1675 M. namun ada yang mengtakan bahwa tenun songket sambas sudah dikenal  sebelum kesultanan Islam Sambas berdiri.

Didalam buku ini terdapat kelebihan salah satunya ialah tentang penjelasan sejarah tenun songket Sambas, teknik yang digunkan, jenis-jenis tenun songket Sambas.untuk kekuranganya menurut saya tidak ada.

Kamis, 10 Oktober 2019

RESUME SISTEMATIKA PENULISAN SKRIPSI


RESUME SISTEMATIKA
PENULISAN SKRIPSI
MAHASISWA PAI/FTIK

NAMA: MUHAMMAD RENDI
NIM: 11901099
KELAS: PAI D/1


UPAYA GURU PAI DALAM MENINGKATKAN
 RELEGIUSITAS PADA SISWA SMAN 1 PONTIANAK
TAHUN PELAJARAN 2017/2018

SKRIPSI
OLEH:
CHOLILAH
                                                                        1141110186
 MOTTO:
خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ
“Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain”
ABSTRAK:
CHOLILAH,2014. Upaya Guru PAI Dalam Meningkatkan Religiusitas Pada Siswa SMAN 1 Pontianak Tahun Pelajaran 2017/2018. Skripsi,jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak,Tahun 2018.
Penelitian ini bertujuan untuk: pertama, mengetahui,menganalisis, dan mendeskirpsikan bentuk-bentuk kegiatan yang dilakukan  oleh guru PAI dalam upaya meningkatkan Religiusitas pada siswa SMAN 1Pontianak tahun pelajaran 2017/2018 ; kedua mengetahui,menganalisis,dan mendeskripsikan metode yang digunakan oleh guru PAI dalam upaya meningkatkan Religiusitas pada siswaSMAN 1Pontianak tahun pelajaran 2017/2018; ketiga,mengetahui,menganalisis, dan mendeskripsikan faktor penghambat dalam upaya meningkatkanReligiusitas pada siswa SMAN 1 Pontianak tahun pelajaran 2017/2018.
Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan teknik observasi,wawanca,dokumentasi. Kemudian untuk melakukan analisis data peneliti menggunakan teknik analisis data Reduksi data,penyajian data,penarikan keabsahan data peneliti menggunakan,memperpanjang pengamatan,triangulasi,dan membercheck.
Bedasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa:Pertama, bentuk bentuk kegiatan yang dilakukan oleh guru PAI dalam upaya meningkatkan Religiusitas pada siswa SMAN 1 Pontianak tahun pelajaran 2017/2018 adalah PHBI,penyajian/mentoring dan solat jumat berjamaa
h; Kedua, metode yang digunakan oleh guru PAI adalah metode pembiasaan; Ketiga,adapun penghambat dalam upaya meningkatkan religiusitas pada siswa ada dua yaitu intern dan ekstern faktor intern yakni berasal dari dalam diri siswa meliputi perhatian dan kelelahan sedangkan faktor ekstern meliputi faktor lingkungan diantaranya adalah lingkungan keluarga,lingkungan sekolah,lingkungan masyarakat. Selain itu penghambat lain yakni faktor sarana dan prasarana yang kurang mendukung.
KATA KUNCI: Upaya Guru PAI,Peningkatan Religiusitas

DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK .............................................................................................................................. i
KATA PENGANTAR............................................................................................................. ii
DAFTAR ISI........................................................................................................................... v
DAFTAR GAMBAR.............................................................................................................. vii
DAFTAR TABEL................................................................................................................... ix
DAFTAR LAMPIRAN..........................................................................................................  x
BAB I PENDAHULUAN......................................................................................................  1
A.     Latar Belakang......................................................................................................................... 1
B.     Fokus Penelitian....................................................................................................................... 3
C.     Tujuan Penelitian...................................................................................................................... 4
D.     Manfaat Penelitian................................................................................................................... 4
BAB II UPAYA GURU PAI DALAM MENINGKATKAN 
RELIGIUSITAS PADA SISWA............................................................................................ 6
A.     Penelitian Terdahulu................................................................................................................ 6
B.     Tugas dan Tanggung Jawab Guru PAI.....................................................................................15
1.      Hakikat Guru PAI.............................................................................................15
2.      Tugas Guru PAI................................................................................................22
3.      Tanggung Jawab Guru PAI...............................................................................24
4.      Tugas dan Tanggung Jawab Guru PAI 
       dalam Meningkatkan Religiusitas....................................................................25
5.      Macam-macam Dimensi Religiusitas...............................................................27
6.      Bentuk-bentuk Kegiatan dalam Meningkatkan Religiusitas............................30
7.      Metode Guru PAI dalam Meningkatkan Religiusitas.......................................33
8.      Faktor-faktor Penghambat dalam Meningkatkan Religiusitas..........................37
BAB III METODE PENELITIAN........................................................................................ 41
A.     Jenis dan Pendekatan Penelitian............................................................................................... 41
B.     Lokasi dan Waktu Penelitian.....................................................................................................41
C.     Sumber Data .............................................................................................................................42
D.     Metode dan Alat Pengumpul Data............................................................................................43
E.      Metode Analisis Data................................................................................................................45
F.      Metode Pengecekan Keabsahan Data........................................................................................47
BAB IV PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN................................................49
A.     Gambaran  Umum Lokasi Penelitian........................................................................................49
B.     Paparan Data Penelitian............................................................................................................64
C.     Temuan Penelitian.....................................................................................................................77
D.     Pembahasan .............................................................................................................................77
BAB V PENUTUP...................................................................................................................89
A.     Simpulan ..................................................................................................................................89
B.     Saran ........................................................................................................................................90
C.     Daftar Pustaka..........................................................................................................................91

KUTIPAN:
·         Menurut Zakiah Darajat (2016:137) aspek pertama dari pendidikan agama adalah ditunjukkan jiwa atau pembentukan kepribadian.
·         Adapun religius menurut Surhardianto dalam Wahyudin dkk(tt:2) adalah hubungan pribadi dengan Tuhan Yang Maha Kuasa,Maha Pengasihdan Maha Penyayang (Tuhan) yang berkonsekuensi hasrat untuk melaksanakan kehendaknya dan menjauhi  yang tidak di kehendakinya (larangannya).
·         Sejalan dengan pandangan Al-Gazali,dimana seorang perlu dididik menjadi manusia paripurna, yang memahami kewajibannya sebagai hamba Allah dan sesama manusia.(Al-Gazali dalam Syamsul Kurniawan,Jurnal Tadrib,vol.3,NO.2,2017.hlm.207).
·         Menurut Ramayulis (2008:60) pendidik dilembaga pendidikan persekolahan disebut dengan guru,yang meliputi guru madrasah,atau sekolah sejak dari taman kanak-kanak,sekolah menengah dan sampai dosen-dosen di perguruan tinggi,kiai di pondok pesantren dan lain sebagainya.
·         Menurut Tafsir dalam Wildan Azizi(2014:8) Definisi guru dalam prespektif islam yaitu siapa saja yang bertanggung jawab terhadap perkembangan siswa guru yang memberikan pelajaran kepada siswa,dan pendidikan yang memegang mata pelajaran di sekolah ,guru merupakan jabatan atau profesi yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru.
·         Menurut Arief Sukino(2013:8) pendidik adalah orang dewasa yang bertanggung jawab untuk memberi pertolongan pada muridnya dalam perkembangan jasmani dan rohaninya, agar mencapai tingkat kedewasaan,mampu berdiri sendiri dan memenuhi tingkat kedewasaannya,mampu melaksanakan tugasnya. Sebagai hamba dan khalifah Allah SWT,serta mampu melaksanakan tugas. Sebagai makhluk social dan sebagai makhluk individu yang mandiri.
·         “Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik ,mengajar, membimbing, mengarahkan,melatih,menilai,dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal,pendidikan dasar,dan pendidikan menengah.”(M.Shabir.U,2015:221)
·         Dalam konteks pendidikan islam, pendidik disebut dengan murabbi,mu’allim dan ,muaddib kata murabbi berasal dari kata rabba;yurabbi.kata muallim isim fail dari kata allama, yuallimu. Ketiga, termasuk itu,murabbi,muallimdan muaddib,mempunyai makna yang berbeda ,sesuai dengan konteks kalimat,walaupun dalam situasi tertentu mempunyai kesamaan makna.(Ramayulis 2008:56)
·         Tanggung jawab PAI terhadap amanatnya sebagai mana dikemukakan di atas,tegasnya diwujudkan dalam upaya mengembangkan profesionalismenya, yaitu mengembangkan mutu, kualitas dan tindak tanduknya.(Departemen Agama RI.2001:4-5)
·         Menurut Muhaimin dkk dalam  M.Shabir .U(2015:224) tugas guru yang paling utama adalah mengajar dan mendidik. Sebagai pengajar guru berperan aktif (medium) antara siswa dengan ilmu pengetahuan.


DAFTAR PUSTAKA
Zakiah Darajat.2015.Ilmu Jiwa Agama.Jakarta:Bulan Bintang.
Wahyudin dkk.t.t “ Dimensi Religiusitas dan Pengaruhnya Terhadap Organizational Citizenship Behavior (Studi pada Universitas Jendral Soedirman Purwokerto).
Syamsul Kurniawan. “Pendidikan Karakter Dalam Islam Pemikiran Al-Gazali Tentang Pendidikan Karakter Anak Berbasis Akhlaq Al-Karimah.” Jurnal Tadrib,vol.3,NO.2 Desember 2015.
Ramayulis.2008. Ilmu Pendidikan Islam.Jakarta:Kalam Mulia.
Wildan Azizi.2014.” Peran Guru Pendidikan Agama Islam Kelas x Dalam Menerapkan Pendidikan Karakter Di SMA Muhammadiyah Blora Tahun Pelajaran 2013/2014 Dalam FTIK PAI Universitas Muhammadiyah.
Arif Sukino.2013. Ilmu Pendidikan Islam.Pontianak:Stain Press.
M.Shabir U.. ”Kedudukan Guru Sebagai Pendidik (Tugas dan Tanggung Jawab,Hak dan Kewajiban ,dan Kompentensi Guru) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan UIN Alauddin Makasar” Jurnal Auladuna, vol.2.NO.2 Desember.
Departemen Agama RI Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam .E II Metodologi Pendidikan Agama Islam, Jakarta.








Senin, 07 Oktober 2019

OBSERVASI


TUGAS BAHASA INDONESIA OBSERVASI



Tempat pengambilan foto: Masjid Raya Mujahidin,Pontianak
Waktu: Ahad,6 Oktober 2019
Analisis: Bismillah,dari gambar diatas terdapat kesalahan penggunaan huruf kapital pada kata “dan” kata tersebut merupakan kata  penghubung  yang mana pada gambar atau foto tersebut terlihat menggunakan huruf kapital,dan kata penghubung yang benar pada kata “dan” adalah menggunakan huruf keci.
Sumber: Buku EYD.



Tempat pengambilan gambar: Taman Alun-alun Sungai Kapuas
Waktu: Jumat,27 September 2019
Analisis: Bismillah,pada gambar diatas dapat kita lihat ada beberapa tanda yang kurang yaitu pada kalimat “dilarang membuang sampah sepanjang jalan ini” dimana kalimat ini sebaiknya disertai dengan tanda seru,mengapa karena kalimat tersebut merupakan seruan atau perintah yang mesti disertai dengan tanda seru,kekurangan kedua pada gambar tersebut adalah pada penulisan uang ,sebaiknya penulisan uang disertai dengan kata “Rp” (rupiah).
Sumber: Buku EYD.


Tempat pengambilan gambar: Taman Digulis Pontianak
Waktu: Rabu,2 Oktober 2019
Analisis: Bismillah,pada gambar diatas dapat kita lihat ada satu kekurangan yaitu penggunaan tanda seru pada kalimat diatas,dimana kalimat diatas merupakan kalimat seruan untuk membuang sampah pada tempatnya
Sumber: Buku EYD.

Tempat pengambilan gambar: Jalan Merdeka,Pontianak
Waktu: Jumat, 4 Oktober 2019
Analisis: Bismillah,pada gambar diatas terdapat kesalahan dalam penulisannya dimana penulisan “apotik” yang benar ialah “apotek” jadi ada kesalahan dalam penulisannya.
Sumber: Buku EYD.

Tempat pengambilan gambar: Taman Digulis Pontianak
Waktu: Rabu,2 Oktober 2019
Analisis: Bismillah,pada gambar diatas terdapat kekurangan yaitu pada kata “digital” tidak menggunakan huruf kapital,lebih baik menggunakan huruf kapital pada huruf pertama saja dari kata “digital”
Sumber: Buku EYD.

Tempat pengambilan gambar: Jalan Teuku Umar,Pontianak
Waktu: Senin,7 Oktober 2019
Analisis: Bismillah,pada gambar diatas dapat kita lihat bahwa ada huruf yang salah yaitu kata “di jual” kata di jual lebih baik ditulis dengan cara tidak dipisah.dan terdapat kesalahan pada penulisan kata “dengan” karena kata tersebut tidak perlu menggunakan huruf kapital.
Sumber: Buku EYD.

Tempat pengambilan gambar: Jalan Ayani,Pontianak
Waktu: Rabu,2 Oktober 2019
Analisis: Bismillah,pada gambar diatas merupakan kalimat “STOP NARKOBA” hanya saja terdapat kekurangan pada gambar diatas yaitu penggunaan tanda seru karena kalimat tersebut merupakan kalimat seruan dimana kalimat tersebut bermakna kalimat perintah untuk mnegajak orang berhenti menggunakan obat-obatan terlarang.
Sumber: Buku EYD.

Tempat pengambilan gambar: Jalan Ayani,Pontianak
Waktu: Rabu,2 Oktober 2019
Analisis: Bismillah,pada gambar tersebut terdapat kekurangan yang sama pada gambar sebelumnya dimana pada gambar ini terdapat kekurangan penggunaan kata tanda seru, dimana kalimat ini merupakan kalimat perintah dimana kalimat tersebut memerintahkan kita untuk memnghormati hak pejalan kaki dengan cara tidak mengambil hak pejalan kaki di trotoar
Sumber: Buku EYD.

Tempat pengambilan gambar: TPI,Pontianak
Waktu: Senin,7 Oktober 2019
Analisis: Bismillah,pada gambar diatas dapat dilihat terjadi beberapa kesalahan dalam penggunaan huruf kapital pada kalimat tersebut lebih baik menggunkan huruf kapital pada kalimat pertama dan kesalahan yang kedua yaitu pada huruf “dan” sebaiknya penulisan huruf tersebut tidak menggunakan huruf kapital
Sumber: Buku EYD.

Tempat pengambilan gambar: TPI,Pontianak
Waktu: Senin,7 Oktober 2019
Analisis: Bismillah,pada gambar diatas terdapat kekurangan yang sama pada kalimat tersebut yaitu tanda seru dimana kalimat tersebut merupakan kalimat perintah,dilarang untuk berkendara dengan kecepatan tinggi di jalan tersebut karena banyak anak kecil
Sumber: Buku EYD.

Senin, 23 September 2019

BAHASA IBU

BAHASA IBU


 BISMILLAH
ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH 


Bahasa indonesia adalah bahasa pemersatu bangsa dengan bahasa ini masayakat yang berbeda bahasa tetapi masih dalam satu negara berkat bahasa indonesia komunikasi antar daerah  menjadi lebih mudah karena bahasa indonesia adalah bahasa yang efektif. mungkin itu adalah pembukaan blog tentang bahasa, Alhamdulillah pada kesempatan kali ini saya Muhammad Rendi akan sedikit berbagi cerita tentang bahasa ibu.

Bahasa ibu menurut saya adalah bahasa yang sering di gunakan di dalam cangkupan lingkungan keluarga.bahasa yang di gunakan ibu dan ayahku itu berbeda ibu menggunakan bahasa pontianak karena beliau lahir dan besar disana sedangkan ayahku mengunnakan bahasa sambas karena ayahku memang asli sana dan kadang-kadang saya menggunakan bahasa salah satu  bahasa ibuku dan ayahku pada saat saya berbincang atau berbicara kepada ayah dan ibu.banyak pengalaman bahasa yang saya dapat ketika saya bersama keluarga tinggal di jawa.pada pertama kali saya mendengar bahasa mereka masih belum mengerti apa yang mereka bicarakan sehingga membuat hati kecil ini bertanya-tanya kira-kira hal apa mereka bicarakan,karena bahasa yang mereka gunakan ya membuat saya terheran heran :v.kira-kira 3 bulan kurang lebih saya mulai memahami bahasa mereka salah satunya dolan itu sama dengan bermain, melayu itu artinya lari,dan masih banyak lagi bahasa yang saya jumpai disana.
mungkin ini beberapa cerita tentang bahasa melayu yang sama tetapi berbeda penyebutannya

teman saya dia menggunakan bahasa ibunya adalah melayu pontianak namanya kita gunakan inisialnya adalah A dan saya menggunakan bahasa melayu sambas ternyata bahasa melayu sambas itu berbeda kalau di pontianak bahasanya iye itu iya sedangkan sambas aok itu iye terkadang orang pontianak tidak mengerti bahasa melayu sambas tapi orang sambas tau atau mengerti bahasa pontianak, entah mengapa terdapat perbedaan yang jauh antara bahasa melayu sambas dan melayu pontianak padahal yang kita tau sama sama menggunakan bahasa melayu kok bisa berbeda penyebutannya namun artinya sama. saya pernah di tanya sama teman saya anggap saja namanya ipat begini pertanyaannya

ipat: "ren kamu tau gak artinya what itu apa?"

saya:"tau,what itu artinya apa!"
ipat: iyah,what itu apa ?"
saya: iyahh ,what itu artinya apa ipattt !!!" (di situ saya mulai kesel)
ipat:kok,kamu ren nanya balik kesaya,kan saya tanya kekamu what itu artinya apa?"
saya:dalam hati saya berkata ini saya yang bodoh atau dia bodoh padahal yang saya katakan itu sudah benar ya jawaban saya "mau kamu apa?"
ipat:"hahaha ,canda ren." 
mungkin ceritanya kurang menarik sebelummnya saya mengucapkan mohon maaf ,jangan lupa di komen karna kritikan anda bisa membuat saya berubah menjadi lebih baik ,saya ucapakan terimakasih buat yang udah baca mudah mudahan selalu diberi nikmat sehat oleh Allah Azza Wa Jalla aamiiin,saya ucapkan terimakasih 

WASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH